Sastra Jendra Hayuningrat

Download Ebook Sastra Jendra Hayuningrat


Agama bukanlah tujuan, melainkan jalan untuk mencapai kesadaran ketuhanan dan spiritualitas. Menjadikan agama sebagai tujuan hanya akan melahirkan perilaku fanatisme keagamaan yang berlebihan, alasannya tersimpan pamrih berupa iming-iming nirwana dan atau menghindari neraka. Menjadikan agama sebagai tujuan cenderung bersifat destruktif, alih-alih sebagai rahmatan lil ‘alamin.
Baca Juga
1 of 1,037

Sebagai jalan menuju kesadaran ketuhanan, agama menyediakan jalan (-jalan) bagi seorang hamba [salik] untuk berdekat-dekatan dengan Tuhannya, Dzat Yang Maha Gaib. Agama dalam hal ini lebih sebagai laris spiritual, menghayati kehidupan dengan jiwa ketuhanan yang sepi ing pamrih, berpikir nyata terhadap takdir Tuhan. Laku spiritual ini hanya bisa dijalankan oleh jiwa-jiwa yang siap lahir-batin menyerahkan hidupnya untuk menapaki jalan syari’at, thariqat, haqiqat, dan ma’rifat.
Namun, tidak selalu jalan menuju kesadaran ketuhanan sanggup ditempuh melalui jalan “positif” menyerupai pada umumnya. Di seberang sana, ada jalan “negatif” yang justru tidak kalah mencengangkan, menyerupai yang dilakoni oleh tokoh “Saya Sudrun” dalam novel ini. Jalan lain Saya Sudrun, Kiai Sudrun, atau Sudrun Edan, yaitu menapaki jalan menemukan Allah Robbul ‘Alamin dari Iblis, makhluk Tuhan yang divonis sesat dan terkutuk. Bagaimana mungkin menemukan kebenaran Ilahiah dari Iblis? Jangan-jangan itu yaitu bisikan setan untuk menjerumuskannya menuju kesesatan?!
Karya ini sangat menarik alasannya menghadirkan perspektif gres soal perilaku keberagamaan kita, dengan kemasan cerita yang menakjubkan. Di dalam tradisi sufisme dalam pengertiannya yang luas prototipenya bisa dirujuk ke Sunan Giri dan Sunan Kalijaga, sampai ke pedoman tasawuf Ibn ‘Arabi, novel ini mengisahkan jalan ke-salik-an Saya Sudrun dalam menemukan kebenaran Ilahiah, pengembaraan batiniah, menjalani kehidupan dengan bermacam-macam aksara insan lintas-agama dan lintas-aliran, memungut hakikat cinta sejati dari orang-orang yang dijumpainya.
Saya Sudrun bukanlah insan yang serba tahu, suci, dan terbebas dari dosa. Karena ke-sudrun-annya, yang berbeda dari insan pada umumnya, Saya Sudrun dianugerahi kemampuan berkomunikasi dengan apa yang digambarkannya sebagai Kilatan Cahaya Petir. Dari kilatan cahaya yang aneh dan misterius itulah, Saya Sudrun memperolah pencerahan ihwal hakikat pedoman Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More

close