Billy Koesoemadinata – Burung Kertas

Tidakkah kamu sadari  ada yang Istimewa dan khusus  dengan trend semi Billy Koesoemadinata - Burung Kertas
Billy Koesoemadinata – Burung Kertas
Baca Juga
1 of 1,038

“Tanggal berapa sekarang?” Hikaru memecah kesunyian. Kuhentikan sebentar
pekerjaan tugasku, dan menatapnya.
“Memangnya kenapa?”
“Aku tanya, tanggal berapa sekarang? Jawab saja!”
“Dua April. Memang kenapa?”
Hikaru meninju telapak tangannya. Ia berdiri dan menatapku. Aku bingung.
“Wah! Artinya, kini ahad terakhir trend dingin! Asyik!”
“Lalu?”
Aku tak tertarik. Aku kembali mengerjakan tugas. Hikaru memegang pundakku.
Ia menggoncang-goncangkannya.
“Minggu depan trend semi! Minggu depan sudah trend semi!”
“Ya, dan ada apa dengan trend semi? Kenapa kamu begitu bersemangat?”
“Tidakkah kamu sadari ada yang Istimewa dan khusus dengan trend semi? Itu
saatnya bunga Sakura bermekaran! Pasti asyik! Kita dapat duduk bersantai di
bawahnya, sambil ngobrol! Dan, siapa tahu ada cowok!”
“Yah, terserah. Tapi, dari mana kamu tahu kata ‘cowok’? Itu ‘kan tidak baku?”
Hikaru tersenyum. “Kau.”
Aku menggeleng. Ada-ada saja Hikaru ini!
“Yah, tapi kata itu jangan kamu ucapkan di situasi resmi, ya?”
Aku kembali mengerjakan tugas. Tapi, tampaknya Hikaru belum menyerah.
“Ayolah, Ghita-chan! Di mana semangat trend semi-mu?”
Kusimpan pena, dan menutup kedua buku tugasku. Kutatap Hikaru dengan
tajam. Ia masih saja tersenyum-senyum. Seakan-akan mengajakku untuk ikut
tersenyum juga.
“Hikaru sahabatku, mana dapat saya mempunyai semangat itu? Aku ‘kan ekspat!
Orang asing! Kau sudah lupa hal itu, ya?”
“Tapi, kamu ‘kan sudah tiga tahun di Tokyo. Selama itu pula, kamu ‘kan sudah
melewati tiga kali trend semi. Memangnya, ada apa dengan trend semi
sampai kamu tidak mempedulikannya? Apa tidak ada sesuatu yang menular dan
membekas padamu?”
Aku bangkit.
“Ya, ada! Ada yang membekas dari tiga kali trend semi itu. Yaitu, rasa iri! Ya!
Aku iri! Aku iri dengan bunga Sakura yang indah dan hanya ada di negaramu!
Sementara di negaraku, apa? Bahkan, trend semi pun, saya tak pernah
mengenalnya hingga ketika ini!”
Hikaru membisu tak menjawab.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. AcceptRead More

close